​Aksi Super Damai: Woe Jangan Injak Rumput Woe! 

​Aksi Super Damai: Woe Jangan Injak Rumput Woe! 

Sebagai anak kekinian yang suka ikut-ikutan hari ini saya  datang ke Monas. Pingin lihat aksi yang katanya jumlah masanya terbesar sejak republik ini berdiri. Semua alat dokumentasi hampir lengkap mulai DSLR dan lensa tele, actioncam, MacBook yang hampir gak pernah jauh dari badan, powerbank dan baterai handphone masing-masing dua biji, perlengkapan pelindung kalau hujan, pokoknya lengkap standar liputan dokumentasi outdoor tiga hari.
Namun ketika acara dimulai tetiba semangat saya untuk jeprat-jepret hilang seketika. Ibarat nonton konser Raisa sudah siap mengabadikan jalannya konser dari awal sampai lagu penutup tapi karena saking terhanyut dengan suasana jadi pingin jadi penonton saja. Dan dari pagi saya benar-benar asik duduk di tangah shaf jutaan manusia yang berjajar rapi mengelilingi Monas dan ternyata meluber sampai Bundaran HI.
Semoga ini juga bisa jadi alasan kenapa foto saya gak banyak dan gak ada yang bagus. Hihihi. 
Berangkat dari Kalibata niatnya mau langsung ke Monas. Sampai di Thamrin ternyata jalan ditutup. Belok kanan nyari parkiran, dapat di depan XXI. 
Jalan Thamrin yang lengang pagi ini mulai dibanjiri manusia yang sebenarnya lebih cocok disebut jama’ah pengajian daripada demonstran atau masa aksi. Mereka datang rapi, lalu sesampainya di halaman Monas duduk rapi bershaf mirip pengajian. Bedanya mereka datang dengan megaphone, spanduk, bendera, headband, yel-yel dan tuntutan untuk memenjarakan Pak Basuki. 
Di jalan Thamrin, Ahmad dari Depok membagikan nasi bungkus yang dibawa rombongannya dari Depok sejak dari Subuh khusus dibagikan untuk mereka yang lewat. Maju beberapa meter sudah ada belasan kardus air mineral dan puluhan makanan ringan dalam box yang dugaan saya juga akan dibagikan gratis seperti yang dilakukan pula beberapa ibu-ibu lain.
Di bawah jembatan layang ada seorang bapak yang dengan ramahnya mendatangi beberapa masa aksi yang sedang duduk-duduk. 
“Apakah sudah bawa sajadah? Jika belum silakan ambil. Gratis,” ujarnya sambil membuka tas berisi beberapa sajadah. 
Setelah iringan ondel-ondel lewat dan saya serta rombongan sudah mendekati Monas, Jundi, pemuda tanggung yang menjadi relawan kebersihan sudah siap dengan trashbag besar warna hitam mempersilahkan siapapun yang punya sampah untuk dimasukkan ke kantong ajaib miliknya. Sekonyong-sekonyong saya jadi bertanya dalam hati, masih ada anak milenial ibukota model beginian ternyata. 
Pemandangan yang sama dengan jumlah lebih banyak saya jumpai di halaman Monas. 
“Yuk, sampahnya dimasukin kesini biar gak kotor. Yang jauh mendekat, yang dekat merapat,” kata seorang bapak dengan senyum lebarnya yang ramah. 
Upaya menjaga ketertiban tak hanya soal sampah, rumput hijau Monas yang bergoyang tanpa perlu kita tanyakan itu tak luput dari penjagaan posesif masa aksi. 
“Woe jangan injak rumput woe!” teriak beberapa masa aksi setiap melihat ada yang entah sengaja atau tidak menginjak rumput di halaman Monas. 
Hal yang paling saya takutkan adalah selesai acara. Jutaan manusia keluar bareng dari Monas. Terbayang peristiwa desak-desakan di Mina yang memakan korban jiwa. Tapi semua itu tidak terjadi. Sesuai dengan tema acara Aksi Super Damai.
Masa aksi keluar dengan tertib dan rapi. Tetap dengan teriakan, “woe jangan injak rumput woe!”

Sumber FB Yudha Yuliardhi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s